Sunday, November 24, 2013

Ibu Melawan Bapak dan Rokoknya

Bapak    : (klepas-klepus menghisap rokok)
Ibu         : Pak e, gimana iki pak? (datang sambil membawa tenggok dan mencicing jariknya)
Bapak    : Ana apa ta bu?
Ibu         : Iki pak, tagihan listrik kok belum dibayar iki piye pak.. (meletakkan tenggoknya dan menunjukkan secarik kertas)
Bapak    : Lho, piye ta (membuang puntung rokok di asbak)
Ibu         : lha bapak belum ngasih duwite,meh mbayar pakai opo pak?
Bapak    : Yo wis, ngutang Bu Jum dhisik wae bu (mennyalakan rokok baru)
Ibu         : Ngutang-nguteng-ngutang-nguteng wae pak, malu aku.
Bapak    : (Menghisap rokok) Pilih malu apa nggak punya listrik?
Ibu         : Ya mbok bapak usaha piye carane bayar listrik
Bapak    : Kan itu yo usaha bu
Ibu         : Mosok ngutang terus? Mbok ngrokoknya mandhek ta pak, boros
Bapak    : Halah, rokok sebungkus mung 10.000 we kok boros, mbok belanjamu kuwi di kurangi
Ibu         : Neg belanja’ne di kurangi, kita meh makan opo pak? Makan rokok? Rokok e bapak neg sehari sebungkus wae sebulan wis 300ewu pak, isa di nggo bayar listrik. Anak-anak yo ora kena ISPA meneh.
Bapak    : Lho, lak sing di salahke bapak meneh ta?
Ibu         : Lha dokter wis kondho pak, kuwi akibat asep rokok’e bapak. Lha bapak wae neg ngerokok sedina 2 bungkus. Jarene dokter, rokok bahaya pak, nggawa penyakit.
Bapak    : Halah, emange dokter kuwi gusti apa?
Ibu         : Tapi kan maksude pak dokter baik pak.
Bapak    : Hmm (tetap menghisap rokok)
Ibu         : Bapak pengen lara terus cepet mati apa? Piye anak-anak nek bapak mati cepet?
Bapak    : Lho, lak malah ndongakke bapak mati cepet ta? Lha mbah Karja, ngrokok sejak jaman jepang nganti saiki isih sehat.
Ibu         : Mbah Karja wis ora ngrokok pak sejak kena penyakit paru-paru. Lha bapak neg pengen cepet mati lha ayo, ora sah ngrokok (mengambil pisau di tenggoknya)
Bapak    : Bu, ibu ki kok malah medeni
Ibu         : Lha bapak ngeyel og
Bapak    : Iya, ya, tak utangke pak Jupri nek ngono (mematikan rokoknya dan berdiri)

Ibu         : Mbuh ah pak, karepmu (meninggalkan suaminya)

Friday, October 25, 2013

Aku dan Langit

Hai langit, ini aku, seseorang yang selalu bisa melihatmu dan bisa kau lihat. Entah berapa lama kau ada di kisah hidupku. Entah berapa lama kita selalu bersama. Entah berapa lama kau bisa melindungiku dari mentari yang menyengatku tanpa ampun. Entah berapa lama kau selalu ada untukku. Entah berapa lama kau akan menjadi sosok yang berarti dalam hidupku.
Langit, taukah kau seperti apa kisah kita bertahun-tahun ini? Ingatkah kau bagaimana kita pertama saling menyadari keberadaan kita satu sama lain? Ingatkah kau mengapa aku selalu mengacuhkanmu dulu? Ingatkah kau, langit?
Aku yakin, tak ada yang kau ingat tentang semua itu. Aku juga ingat, begitu banyak yang kau lihat, begitu banyak yang kau lindungi, dan aku? Aku hanya sebutir pasir di pantai yang luas.Lagit, taukah kau betapa aku mengagumimu? Aku selalu mendongakkan kepalaku agar kau terlihat jelas karena kau begitu tinggi bagiku.
Langit, betapa bodohnya diriku. Aku terlalu bodoh untuk tidak menyadari semua itu. Kau, Langit, yang begitu tinggi itu, ternyata adalah penipu. Ah.. bodohnya aku.

Sunday, October 20, 2013

Kisah Pria dan Wanita Ketika Senja Tiba


Sebuah senja tua,
Berjalan renta diantara Fajar dan senja.
Berpeluk erat, saling melekat.
Sebuah berlian, rupa percaya dan setia.

Hanya cinta dan nyawa yang tersisa,
Bukan harta ataupun rupa,
Hingga saatnya kembali ke peraduan,
Dan bertemu di Senja Tuan.

Saturday, October 19, 2013

Senja Tua

Sebuah senja tua,
Pria dan wanita duduk berdua,
Secangkir teh di tangan sang pria,
Sesenyum simpul di wajah sang wanita.

Sebuah senja tua,
Bulan dan Surya bertegur sapa,
Berbagi secangkir kopi tua,
Lalu berpisah di batas senja.

Sebuah senja tua,
Hanya sebuah cerita tanpa pertanda,
Tegores suka dan luka,
Lalu hilang dari pelupuk mata.

Sebuah senja tua,
Sebuah senja,
Senja tua,
Hanya ada kita berdua.

Monday, October 14, 2013

Berubah? Tidak Semua Hal Bisa Berubah

Beberapa waktu yang lalu, seorang Dosen di sekolahku meminta kami untuk menuliskan kelebihan dan kekurangan kami. Berawal dari sebuah kelebihan yang sering dikatakan oleh orang-orang di sekitarku, aku menuliskan beberapa kelebihan yang menurutku itu hanya menurut mereka, bukan menurutku karena aku hanya orang biasa. Kutuliskan juga kekuranganku dan hal pertama yang kutuliskan adalah "buta parsial permanen", mengingatkanku pada kecelakaanku di masa lalu yang membuat bola mata sebelah kananku lebih kecil dibandingkan bola mata sebelah kiriku dan aku harus berusaha fokus agar bisa melihat temanku yang hanya berjarak 3 meter dari tempatku. Aku tak terdiam, hanya tersenyum melihat teman-teman yang jarang melihatku serius terhadap sesuatu. Suara Dosenku memecah keheningan kelas kami, memecah keseriusan kami ketika mencari apa kelebihan dan kekurangan kami. "Kalian bisa melihat, seperti apa kelebihan yang telah kalian ketahui dan kekurangan kalian. Tugas kalian di sini adalah meningkatkan kelebihan kalian dan menghapuskan satu per satu apa yang ada di daftar kelemahan kalian," seketika aku terdiam, rasanya seperti aku baru saja menabrak sebuah tembok besar. Dalam benakku hanya terdengar kata-kata banyak dokter yang telah ku temui dan semua itu sama, ini tak bisa diperbaiki ataupun di hapuskan, hanya berusaha yang terbaik yang bisa dilakukan kedepannya. Jujur saja, aku ingin mengangkat tanganku dan berkata kepada dosenku bahwa ada hal yang tidak bisa di perbaiki maupun di ubah menjadi sebuah kelebihan. Namun langkahku terhenti ketika beliau memutarkan sebuah video tentang seseorang yang sangat luar biasa, Hellen Keller. Setidaknya keadaanku jauh lebih baik daripada beliau. Itu hal yang muncul pertama kali dalam benakku. Melihat apa yang di tampilkan, mataku berkaca-kaca, betapa hebatnya Hellen menghadapi apa yang dia rasakan dan betapa hebat guru dan keluarganya yang sangat sabar mengajari Hellen hingga menjadi wanita yang sangat luar biasa. Hanya sebuah hal besar yang ku dapatkan dalam kuliah itu, "Tidak Semua Kekurangan Dapat Diperbaiki, Setidaknya Kita Bisa Melawan Yang Tidak Bisa Kita Perbaiki Menjadi Sebuah Tantangan Agar Hidup Kita Lebih Hidup".

Ce-I-eN-Te-A

Menurutmu apa itu cinta? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Cinta adalah suka sekali, sayang benar, kasih sekali, tepikat,ingin sekali, berharap sekali, rindu.... Tapi apakah arti cinta bagimu? Akankah kau menjawab cinta adalah perasaan yang tidak di bisa di ungkapkan dengan kata-kata? Akankah kau menjawab bahwa cinta adalah kekasihmu? Padahal cinta dapat di ungkapkan dengan bahasa sederhana yang kita gunakan sehari-hari. Cinta adalah.... Ketika anjingku menantiku di depan rumah ketika aku pulang sekolah. Ketika ibu membuatkan kopi ayah di pagi hari. Ketika ibu menemaniku disaat aku sakit. Ketika kakak memberikan permennya kepadaku yang hanya dua buah. Ketika nenek menemani dan menuntun kakek yang sulit berjalan untuk pergi ke gereja. Ketika nenek lupa dimana dia meletakkan gigi palsu kakek dan kakek hanya tersenyum tanpa gigi. Ketika Bu Iin mengijinkanku mengambil kue yang harganya 1200 padalah uangku hanya 1000. Ketika Mang Ujang memberikan mangga yang baru saja dipetiknya kepada kami untuk kami makan bersama. ......................................................................................... ......................................................................................... .........................................................................................
Itulah cinta, kasih, sayang, bagiku mereka bertiga adalah sama, setidaknya itu menurut bahasa Inggris, Love.

Sunday, March 3, 2013

Tentang Rita dan Waktunya

Jumat, 24 Agustus 2012

Tuhan, ini aku, Rita. Umurku 7 tahun. Kata Ibu, Tuhan serba tau dan Tuhan sudah mengenalku bahkan sebelum Ibu mengenalku. Maka dari itu aku ingin bercerita kepada Tuhan. Boleh kan Tuhan?
Tuhan, hari Rabu yang lalu aku kembali dimarahi ibu-ibu gendut, Dokter Juan dan Suster Yohana padahal aku tidak berbuat salah sedikitpun. Aku hanya bermain dengan seorang anak kecil yang duduk sendirian di taman rumah sakit. Mengapa ibu-ibu gendut yang jelek itu, Suster Yohana dan Dokter Juan harus memarahiku? Mengapa ibuku harus menangis? Oh, aku tau Tuhan, ibu sedih melihat Dokter Juan dan Suster Yohana selalu memarahiku.
Tuhan, kata Ibu, kita bisa meminta apapun kepadamu. Tuhan, jika aku boleh meminta sesuatu kepadamu, bolehkah aku mendapatkan boneka? Kata Ibu, aku bisa meminta kepada Tuhan apa saja jika aku berbuat baik, aku akan berbuat baik selama satu minggu ini Tuhan. Aku Berjanji. Boleh ya Tuhan?<p>


Minggu, 2 September 2012

Tuhan, ini Rita. Aku tidak jadi meminta boneka. Dokter Juan sudah membelikan aku boneka kemarin karena aku rajin meminum obat yang dia berikan dan tidak nakal lagi. Aku tidak berlarian di taman ataupun lorong rumah sakit lagi dan aku juga tidak bermain air ataupun mengganggu ikan di kolam rumah sakit lagi. Tuhan, sebagai imbalan akan kebaikanku, bolehkah aku tidak meminum obat lagi? Obat itu sangat pahit. Kalo Tuhan tidak percaya, Tuhan boleh mencobanya sendiri.

Senin, 17 September 2012

Tuhan, ini masih Rita. Aku tau, Tuhan ingin bertemu denganku secepatnya. Akupun juga begitu Tuhan. Tapi Rita belum bisa, Ibu, Suster Yohana, Dokter Juan pasti akan kecewa jika ku tinggalkan. Seperti kemarin, Suster Yohana marah kepadaku karena ku tinggalkan selama 2 jam. Begitupula ibu, aku takut tidak ada yang bisa menjaga ibu sepertiku jika ibu diomeli orang-orang yang tak ku kenal. Baru saja Tuhan, tadi pagi seorang tante-tante berambut aneh memarahi ibuku. Ibuku menangis dan terlihat takut tapi karena aku anak yang berani, ku lemparkan saja katak dari kolam rumah sakit ke arahnya. Oh ya Tuhan, sebenarnya apa itu pelacur? Tante-tante itu marah-marah kepada ibuku sambil mengatakan bahwa ibuku pelacur. Jika Tuhan ingin menjawabnya, Tuhan bisa mengirim surat kepadaku. Tapi Tuhan, jangan terlalu panjang menjawabnya, aku belum bisa membaca semahir Dokter Juan. Dan juga Tuhan, mengapa badanku lemas rasanya? Jawablah juga di surat itu. Aku yakin Tuhan lebih pintar daripada Dokter Juan. Aku bena kan Tuhan?

Rabu, 3 Oktober 2012

Tuhan, dimana suratmu? Haruskah aku datang ke rumahmu untuk memenuhi undanganmu untuk mengetahui jawabannya? Tuhan pelit, tidak taukah Tuhan aku sudah menunggu jawaban Tuhan selama satu, dua, tiga,...empat belas hari, eh lima belas hari Tuhan.Oh ya Tuhan, dua hari yang lalu seorang ibu berteriak-teriak di hadapanku lalu ku lihat orang-orang melihatku seperti setan-setan di film horor yang mengintai korbannya. Tuhan, mengapa orang-orang melihatku dan ibuku dengan wajah begitu? Lebih-lebih nenek, dia begitu membenciku. Apa salahku Tuhan? Tetapi Tuhan, aku senang aku memiliki Suster Yohana dan Dokter Juan juga ibu yang selalu menyayangiku, dan juga diri-Mu Tuhan.

Kamis, 31 Oktober 2012

Hari ini aku bermain air di bawah hujan Tuhan. Aku beruntung, Suster Yohana sedang sibuk hari ini. Tuhan, tetapi mengapa badanku rasanya lemas? Apakah karena aku lupa meminum obatku tadi siang?Dan juga Tuhan, apakah Tuhan tau dimana ibuku? Dimana dia menjalani terapi? Tuhan, sesungguhnya jika aku bisa menggantikan ibuku, aku ingin menggantikan ibu menjalani terapi yang menyakitkan itu. Tapi jika Tuhan bisa menyembuhkan kami berdua tanpa terapi, aku akan mengajak ibu ke tempat Tuhan secepatnya. Terapi dari Dokter Juan kurang ampuh, buktinya sudah sejak dulu sekali aku menjalani terapi dan tetap tidak sembuh. Tuhan, aku akan mendatangi Tuhan dua minggu lagi, aku akan meminta ijin Suster Yohana dan Dokter Juan. Aku juga akan mengajak ibu jika ibu mau. Tunggu aku ya Tuhan.

Kamis , 8 November 2012

Aku ingin bermain air saat hujan. Aku ingin berlarian di luar.Aku ingin berjalan-jalan berkeliling bangsal-bangsal rumah sakit dan menemui orang-orang yang biasa ku temui. Aku ingin melihat adik-adik kecil yang tertidur di kamar bayi. Aku ingin melepas selang-selang dan tabung-tabung ini. Aku ingin tidak meminum obat-obatan yang besar-besar itu. Aku ingin bermain dengan Ibu, Suster Yohana, Dokter Juan dan Tuhan. Aku ingin nenek tidak marah lagi dengan ibu. Aku ingin bertemu ayah. Mengapa hanya aku yang tidak mempunyai ayah? Aku ingin melihat orang-orang menyayangi ibuku. Aku ingin bermain mengejar ikan-ikan di kolam rumah sakit. Aku ingin mengganggu burung-burung yang hinggap di pohon rumah sakit. Tuhan aku ingin tas dan payung merah agar setiap orang tau dimana aku berada.

Jumat, 16 November 2012

Tuhan, aku belum jadi mengunjungimu karena hari ini hari Jumat dan kemarin aku masih menggunakan tabung-tabung besar dan selang-selang itu. Hari ini mereka dilepaskan dari tubuhku, Tuhan. Aku akan mengunjungimu pada hari minggu. Suster Yohana dan Dokter Juan pasti bisa mengantarku ke rumahmu karena mereka libur pada hari minggu. Aku bisa mengajak semua orang yang ku sayangi dan mengenalkan mereka kepadamu Tuhan.
Tuhan, kemarin lusa aku mengirimkan lukisan tanganku kepada nenek. Aku menitipkannya kepada paman yang sering memperhatikan ibu dan aku dari jauh. Paman itu teman nenekku, aku pernah melihatnya berbincang di rumah sakit. Semoga saja nenek menyukainya.

Selasa, 20 November 2012

Tuhan, perkenalkan saya Yohana, suster penjaga Rita. Saya tau sejak Rita bisa menulis, ia menuliskan banyak hal kepada-Mu. Sayapun yakin, saat ini Rita sudah berada di kerajaanmu. Saya yakin, tidak ada lagi rasa sakit akibat virus ganas itu. Tuhan, ijinkanlah saya merawat dan memberi semangat Rita-Rita lain. Terimakasih Tuhan, karena Engkau telah mengirimkan Rita kepada saya. Rita, buku ini akan Suster berikan kepada nenek Rita. Semoga buku ini bisa membuka hati nenekmu. Jangan nakal-nakal ya nak di rumah Tuhan.
(Untuk pita merah yang selalu mendukung mereka untuk tetap bertahan dan mereka yang lahir tanpa dosa namun dicela karena dosa yang tidak mereka perbuat)