Dalam bidang kesehatan, Indonesia memang belum semaju negara tetangga seperti Malaysia atau Singapura. Buktinya di daerah-daerah masih di temui warga Indonesia yang berobat di dukun-dukun atau memilih pengobatan alternative karena alasan biaya yang lebih murah dan ‘kata orang’ pengobatan itu manjur. Kata orangnya siapa mungkin bisa sepanjang jalan kenangan ( kata teman pamannya temanku yang katanya temannya teman paman temanku paman temannya pernah berobat ke tempat itu dan pengobatannya manjur. Murah lagi). Tidak hanya sepanjang jalan kenangan, tapi mungkin akan di kemas sebaik mungkin layaknya selles man yang sedang menawarkan barang dagangannya.
Ada cerita di salah satu daerah di Indonesia lebih spesifiknya di pulau Jawa atau yang jelas di daerah tempat tinggal saya, pernah saya temui kejadian unik di rumah sakit. Kejadian itu terjadi di saat saya berjalan di sekeliling rumah sakit dengan sepupu saya. Sampailah kami di dekat ruang ICU. Tampaklah bapak-bapak sedang duduk di ruang tunggu pasien. Telepon genggamnya berdering keras sekali dengan nada dering lagu campur sari. Sang bapak tua langsung menempelkan teleponnya ke telinga sebelah kanannya untuk menjawab telepon itu. Di jawabnya sambil berteriak “Halo? Halo? Aku lagi nang icu, lagi nang icu. Halo?” (Halo? Halo? Saya sedang di ICU, sedang di ICU. Halo?) teriak bapak itu. Padahal telepon itu masih berdering di saat dia berteriak-teriak untuk menjawab. Dan yang parah lagi bapak itu membaca ICU dengan icu bukan I-C-U. Percaya atau tidak, hal ini hanya ada di Indonesia.
Tapi ada hal buruk yang kerap saya temui di Indonesia. Rumah Sakit di Indonesia biasanya meminta DP terlebih dahulu baru menangani pasien. Pernah waktu itu saya temui seorang nenek tua yang pergi ke rumah sakit dengan cucunya yang kira-kira berumur tujuh tahun. Nenek itu sakit keras, wajahnya pucat dan terlihat sangat lelah. Anak kecil berumur tujuh tahun itu berusaha mencari bantuan di salah satu rumah sakit negeri. Tapi hasilnya, anak itu tidak mendapat bantuan apapun dari perawat ataupun dokter di rumah sakit itu. Saya? Saat itu umur saya tak jauh berbeda dengan anak kecil itu, lebih muda malah. Saya tak mampu berbuat apa-apa. Saya hanya bisa diam di lain sisi anak itu, melihat nenek tua yang malang dan berusaha menanyakannya kepada seorang perawat. Tapi saya dan dia hanya anak kecil yang tak punya apa-apa. Entah bagaimana nasib nenek itu sekarang. Satu hal yang saya dapatkan dari pengalaman tadi adalah: di Indonesia kalau tak punya uang jangan sakit.
