Sunday, June 17, 2012

Balada Indonesiaku - Rumah Sakit (coret2 jaman SMP)

Dalam bidang kesehatan, Indonesia memang belum semaju negara tetangga seperti Malaysia atau Singapura. Buktinya di daerah-daerah masih di temui warga Indonesia yang berobat di dukun-dukun atau memilih pengobatan alternative karena alasan biaya yang lebih murah dan ‘kata orang’ pengobatan itu manjur. Kata orangnya siapa mungkin bisa sepanjang jalan kenangan ( kata teman pamannya temanku yang katanya temannya teman paman temanku paman temannya pernah berobat ke tempat itu dan pengobatannya manjur. Murah lagi). Tidak hanya sepanjang jalan kenangan, tapi mungkin akan di kemas sebaik mungkin layaknya selles man yang sedang menawarkan barang dagangannya.

Ada cerita di salah satu daerah di Indonesia lebih spesifiknya di pulau Jawa atau yang jelas di daerah tempat tinggal saya, pernah saya temui kejadian unik di rumah sakit. Kejadian itu terjadi di saat saya berjalan di sekeliling rumah sakit dengan sepupu saya. Sampailah kami di dekat ruang ICU. Tampaklah bapak-bapak sedang duduk di ruang tunggu pasien. Telepon genggamnya berdering keras sekali dengan nada dering lagu campur sari. Sang bapak tua langsung menempelkan teleponnya ke telinga sebelah kanannya untuk menjawab telepon itu. Di jawabnya sambil berteriak “Halo? Halo? Aku lagi nang icu, lagi nang icu. Halo?” (Halo? Halo? Saya sedang di ICU, sedang di ICU. Halo?) teriak bapak itu. Padahal telepon itu masih berdering di saat dia berteriak-teriak untuk menjawab. Dan yang parah lagi bapak itu membaca ICU dengan icu bukan I-C-U. Percaya atau tidak, hal ini hanya ada di Indonesia.

Tapi ada hal buruk yang kerap saya temui di Indonesia. Rumah Sakit di Indonesia biasanya meminta DP terlebih dahulu baru menangani pasien. Pernah waktu itu saya temui seorang nenek tua yang pergi ke rumah sakit dengan cucunya yang kira-kira berumur tujuh tahun. Nenek itu sakit keras, wajahnya pucat dan terlihat sangat lelah. Anak kecil berumur tujuh tahun itu berusaha mencari bantuan di salah satu rumah sakit negeri. Tapi hasilnya, anak itu tidak mendapat bantuan apapun dari perawat ataupun dokter di rumah sakit itu. Saya? Saat itu umur saya tak jauh berbeda dengan anak kecil itu, lebih muda malah. Saya tak mampu berbuat apa-apa. Saya hanya bisa diam di lain sisi anak itu, melihat nenek tua yang malang dan berusaha menanyakannya kepada seorang perawat. Tapi saya dan dia hanya anak kecil yang tak punya apa-apa. Entah bagaimana nasib nenek itu sekarang. Satu hal yang saya dapatkan dari pengalaman tadi adalah: di Indonesia kalau tak punya uang jangan sakit.

Friday, June 15, 2012

If (Cinta Terakhir untuk Banyu)

What if I give you my smile?

Are you gonna stay for a while?

What if I put you in my dreams tonight?

Are you gonna stay 'till it's bright?

What if I give you my story?

Are you gonna listen to me?

What if I give you my heart?

Are we never gonna be apart?

Banyu, andai saja semua itu ku lakukan, akankah kau membalasnya? Andai Arya tak pernah ada, kau tak akan meninggalkanku? Lirik lagu mocca ini selalu mengingatkanku akan dirimu.

What if... if you leave me right here?

I'm right here and waiting for you

Mungkinkah nanti di surga kita akan bertemu kembali? Mungkinkah… Mungkinkah… Mungkinkah… aku haru menghadapi semua kenyataan ini? Kenyataan tentangmu yang telah pergi. Air mataku tak akan jatuh seperti inginmu, tapi hati ini? Setidaknya aku cukup tenang, kau tak akan menderita lagi.

Waktu itu, mentari tertutup awan kelam. Tapi matamu, memancarkan cahaya yang membuat semuanya menjadi cerah. Senyumanmu kepadaku dan Arya, seindah bunga-bunga yang bermekaran di musim semi. Itu semua lebih dari cukup untukku.

“Nyu, kamu itu sakit. Jangan bercanda terus, istirahat sana,” kataku berusaha mengingatkanmu dan kamu tersenyum.

“Cerewet amat sih ibu satu ini?”

“Biarin aja, situ malah udah tau sahabatnya sakit tetep aja di gangguin,”

“Saya hanya menghibur tante,” Arya membela dirinya.

“Sudah..sudah.. by the way, Arya,” matamu meminta sesuatu pada Arya, sesuatu yang tak ku tau. Itu bahasa kalian berdua. Arya meninggalkan kita berdua, hanya berdua.

Matamu memandangku lekat-lekat. Bibirmu terus membagikan senyum padaku. Tapi mengapa bulir-bulir itu jatuh dari matamu?

“Nyu, kenapa nangis?”

Kamu menghela nafas panjang, lalu membaringkan tubuhmu. Tanganmu berusaha menggapaiku, menggenggam tanganku dan mendekatkannya ke dadamu.

“Aku mau tidur,” katamu. Kamu menutup mata lalu tersenyum ,”Terima kasih Cinta, untuk segalanya. Kau berikan lagi, kesempatan itu. Tak akan terulang lagi semua kesalahanku yang pernah menyakitimu,” nyanyianmu sambil memejamkan mata. Aku tau, Arya melihat kita berdua dari luar, dan aku yakin dia sangat sedih. Tapi siapa peduli? Di sini hanya ada duniaku dan duniamu. Tapi, Arya kekasihku, Arya sahabatmu, dia…

“Cinta,” kau memanggilku, “Kalo ini adalah waktu terakhirku, aku rela…”

“Banyu,” selaku ,“Kamu pasti sembuh, percaya sama aku,” kau hanya tersenyum. Ruang ini hening kembali.

“Cinta, aku yakin Arya bisa jaga kamu baik-baik,” katamu.

“Banyu, kamu jadi tambah ngelantur gini?” tanyaku cukup khawatir.

Kau tersenyum, “Iya, aku nggak akan ngelantur lagi. Cinta, aku tidur ya,” katamu sambil tersenyum padaku. Dan itu adalah senyuman terakhirmu.

Banyu, mungkin memang sudah jalanmu untuk pergi. Andai saja tidak ada Arya, mungkin itu akan terjadi lebih awal. Andaikan, aku milikmu. Andaikan..andaikan..

Monday, June 11, 2012

Abang Pencopet dan Adiknya

Abang : (datang tiba-tiba) “Sedang apa kau anak kecil, serius sekali nampaknya,”

Adik : “Belajarlah bang, biar pandai aku,” (serius)

Abang : “Belajar apa kau? Sini, abang ajari,”

Adik : (memandang abang) “Abang saja tak pernah duduk di bangku SD, mana mungkin bisa,”

Abang : “Jangan salah kau, abang ini pandai. Buktinya itu si Jack, dia jadi pencopet professional karena abang. Sinikan buku kau,”

Adik : “Tak mau aku jadi pencopet. Tapi tak apalah. Coba bahasa inggris,” (menyodorkan buku bahasa inggris)

Abang : (menampik buku)“Bah, buat apa kau belajar bahasa inggris? Memang kau orang inggris?”

Adik : “Bahasa Inggris itu perlu bang,” (mengambil buku yang jatuh dan membersihkannya)

Abang : (agak marah) “Jangan sok ke barat-baratan lah kau. Tak cinta dengan negrimu ini?”

Adik : “Bukan begitu bang, jaman sekarang wajib bisa bahasa inggris kalau mau sukses,”

Abang : “Hahaha, aku tak bisa bahasa inggris tetap saja sukses. Sudah belajar yang lain saja. Kalau mau belajarlah bahasa Indonesia,” (mengambil buku bahasa Indonesia)

Adik : “Nanti dulu lah bang, bahasa inggris dulu,”

Abang : (bertambah marah)“Kau tak cinta negerimu sendiri? Jangan seperti mereka lah, pakai bahasa inggris sehari-hari sampai lupa mereka dengan negrinya sendiri,”

Adik : “Aku tak lupa bang, tapi kalo aku tak bisa bahasa inggris, susah cari kerja bang,”

Abang : (tersenyum sinis) “Memangnya kau mau cari kerja dimana? Di inggris?”

Adik : “Bukan begitu bang, tapi memang pegawai kantor sekarang harus bisa bahasa inggris,”

Abang : “Ah, apa bagusnya kebarat-baratan, bahasa Indonesia saja mereka kesulitan. Ya sudah, kau bekerja denganku saja, tak perlu bisa bahasa inggris,”

Adik : “Tak mau aku bang, jadi pencopet apa bagusnya? Dosa bang,”

Abang : “Hahaha”(tertawa keras) “Tau apa kau tentang dosa? Sembahyang saja kau tak pernah”

Adik : “Ah, abang juga. Yang ku tau bang, mencopet itu dosa. Pak ustad bilang itu kemarin di masjid,”

Abang : “Itukan kata pak ustad. Pak ustad bukan Tuhan,”

Adik : “Memang Abang tau Tuhan itu dimana?”

Abang : “Kau ini lucu sekali. Tuhan itu disini” (menunjuk jantungnya)” Kalau kau mau tau benar atau salah tanyalah ke hatimu sendiri,”

Adik : “Ah abang ini, aneh,” (membaca buku bahasa inggris)

Abang : “Hei, aku mencopet pun pilih-pilih. Aku tau targetnya dari dia. Makannya, orang yang ku copet rata-rata koruptor. Satu hari ku copet, esoknya masuk penjara. Berarti uang itu juga hakku kan? Orang yang dia copet duluan. Aku ambil hakku dulu, baru dia boleh masuk penjara. Mau kasusnya tak selesai-selesai itu bukan urusanku lagi, aku sudah ambil hakku duluan,”

Adik : (memandang abang) “Copet pakai teori bang?”

Abang : “Hahaha, sudah. Belajar dulu sana. Katanya tak mau jadi copet” (mengusap kepala adik)(pergi)

Tuesday, June 5, 2012

Baju (corat-coret jaman kelas 2 SMP dan baru nemu lagi)

Untuk DHEGAKURE yang telah mengubah dan menyadarkanku...(Dhega13/Hokage ke 2)

Kita adalah satu. Satu hal yang banyak orang tahu tapi tak mengerti. Mungkin saja aku sendiri tak mengerti. Aku, kamu, dia, juga mereka menyatu. Ikatan kuat yang membawa kita semua kepada legenda disaat cinta, impian, keinginan dan harapan berpadu.

Predikat? Hanya lebel ditempelkan ketika sesuatu menjadi sesuatu yang entah buruk atau baik. Mereka menempelkan itu pada kita. Dengan gaya mereka yang berdiri di antara realita atau rekayasa yang membuat kita seakan berharga. Tapi tak selamanya kita berharga dimata mereka.

Kita adalah baju yang di obral oleh toko dengan bermacam gaya, ukuran,warna dan corak. Para pembeli akan memilih baju yang sesuai dengan hati dan kebutuhan mereka hingga kita akan pergi satu per satu. Itulah cobaan yang harus dilewati. Layaknya mode yang terus berganti dari waktu ke waktu. Padukan hati kita lalu satukan hingga kita akan membentuk suatu model baru, mode kita. Hingga akhirnya kita tak akan lekang oleh waktu.

Tibalah waktunya kita pergi. Kepergian itulah yang akan menunjukkan betapa berharganya kita walau tanpa label atau nama. Walau kita berbeda, bukan berarti kita sama. Tapi berbeda adalah gaya. Dan ketika kita terpisah, rasa rindu ada karena kita berbeda.

Mungkin perbedaan membawa kita pada pertengkaran dan kebencian. Tetapi sesungguhnya, hal itu membuat kita berfikir, betapa lengkapnya aku denganmu dan mereka. Berfikir dewasa dan menghargai yang berbeda. Tidak menyamakan yang berbeda, tetapi memadukan perbedaan. Sehingga kita tak akan jenuh dan mencari baju baru.