Anda semua berhak untuk membaca maupun tidak, dan saya berhak untuk menulis apa yang ada di kepala saya
Monday, October 14, 2013
Berubah? Tidak Semua Hal Bisa Berubah
Beberapa waktu yang lalu, seorang Dosen di sekolahku meminta kami untuk menuliskan kelebihan dan kekurangan kami. Berawal dari sebuah kelebihan yang sering dikatakan oleh orang-orang di sekitarku, aku menuliskan beberapa kelebihan yang menurutku itu hanya menurut mereka, bukan menurutku karena aku hanya orang biasa. Kutuliskan juga kekuranganku dan hal pertama yang kutuliskan adalah "buta parsial permanen", mengingatkanku pada kecelakaanku di masa lalu yang membuat bola mata sebelah kananku lebih kecil dibandingkan bola mata sebelah kiriku dan aku harus berusaha fokus agar bisa melihat temanku yang hanya berjarak 3 meter dari tempatku.
Aku tak terdiam, hanya tersenyum melihat teman-teman yang jarang melihatku serius terhadap sesuatu. Suara Dosenku memecah keheningan kelas kami, memecah keseriusan kami ketika mencari apa kelebihan dan kekurangan kami. "Kalian bisa melihat, seperti apa kelebihan yang telah kalian ketahui dan kekurangan kalian. Tugas kalian di sini adalah meningkatkan kelebihan kalian dan menghapuskan satu per satu apa yang ada di daftar kelemahan kalian," seketika aku terdiam, rasanya seperti aku baru saja menabrak sebuah tembok besar. Dalam benakku hanya terdengar kata-kata banyak dokter yang telah ku temui dan semua itu sama, ini tak bisa diperbaiki ataupun di hapuskan, hanya berusaha yang terbaik yang bisa dilakukan kedepannya. Jujur saja, aku ingin mengangkat tanganku dan berkata kepada dosenku bahwa ada hal yang tidak bisa di perbaiki maupun di ubah menjadi sebuah kelebihan.
Namun langkahku terhenti ketika beliau memutarkan sebuah video tentang seseorang yang sangat luar biasa, Hellen Keller. Setidaknya keadaanku jauh lebih baik daripada beliau. Itu hal yang muncul pertama kali dalam benakku. Melihat apa yang di tampilkan, mataku berkaca-kaca, betapa hebatnya Hellen menghadapi apa yang dia rasakan dan betapa hebat guru dan keluarganya yang sangat sabar mengajari Hellen hingga menjadi wanita yang sangat luar biasa. Hanya sebuah hal besar yang ku dapatkan dalam kuliah itu, "Tidak Semua Kekurangan Dapat Diperbaiki, Setidaknya Kita Bisa Melawan Yang Tidak Bisa Kita Perbaiki Menjadi Sebuah Tantangan Agar Hidup Kita Lebih Hidup".
Ce-I-eN-Te-A
Menurutmu apa itu cinta?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Cinta adalah suka sekali, sayang benar, kasih sekali, tepikat,ingin sekali, berharap sekali, rindu....
Tapi apakah arti cinta bagimu? Akankah kau menjawab cinta adalah perasaan yang tidak di bisa di ungkapkan dengan kata-kata? Akankah kau menjawab bahwa cinta adalah kekasihmu? Padahal cinta dapat di ungkapkan dengan bahasa sederhana yang kita gunakan sehari-hari.
Cinta adalah....
Ketika anjingku menantiku di depan rumah ketika aku pulang sekolah.
Ketika ibu membuatkan kopi ayah di pagi hari.
Ketika ibu menemaniku disaat aku sakit.
Ketika kakak memberikan permennya kepadaku yang hanya dua buah.
Ketika nenek menemani dan menuntun kakek yang sulit berjalan untuk pergi ke gereja.
Ketika nenek lupa dimana dia meletakkan gigi palsu kakek dan kakek hanya tersenyum tanpa gigi.
Ketika Bu Iin mengijinkanku mengambil kue yang harganya 1200 padalah uangku hanya 1000.
Ketika Mang Ujang memberikan mangga yang baru saja dipetiknya kepada kami untuk kami makan bersama.
.........................................................................................
.........................................................................................
.........................................................................................
Itulah cinta, kasih, sayang, bagiku mereka bertiga adalah sama, setidaknya itu menurut bahasa Inggris, Love.
Itulah cinta, kasih, sayang, bagiku mereka bertiga adalah sama, setidaknya itu menurut bahasa Inggris, Love.
Sunday, March 3, 2013
Tentang Rita dan Waktunya
Jumat, 24 Agustus 2012
Tuhan, ini aku, Rita. Umurku 7 tahun. Kata Ibu, Tuhan serba tau dan Tuhan sudah mengenalku bahkan sebelum Ibu mengenalku. Maka dari itu aku ingin bercerita kepada Tuhan. Boleh kan Tuhan?
Tuhan, hari Rabu yang lalu aku kembali dimarahi ibu-ibu gendut, Dokter Juan dan Suster Yohana padahal aku tidak berbuat salah sedikitpun. Aku hanya bermain dengan seorang anak kecil yang duduk sendirian di taman rumah sakit. Mengapa ibu-ibu gendut yang jelek itu, Suster Yohana dan Dokter Juan harus memarahiku? Mengapa ibuku harus menangis? Oh, aku tau Tuhan, ibu sedih melihat Dokter Juan dan Suster Yohana selalu memarahiku.
Tuhan, kata Ibu, kita bisa meminta apapun kepadamu. Tuhan, jika aku boleh meminta sesuatu kepadamu, bolehkah aku mendapatkan boneka? Kata Ibu, aku bisa meminta kepada Tuhan apa saja jika aku berbuat baik, aku akan berbuat baik selama satu minggu ini Tuhan. Aku Berjanji. Boleh ya Tuhan?<p>
Minggu, 2 September 2012
Tuhan, ini Rita. Aku tidak jadi meminta boneka. Dokter Juan sudah membelikan aku boneka kemarin karena aku rajin meminum obat yang dia berikan dan tidak nakal lagi. Aku tidak berlarian di taman ataupun lorong rumah sakit lagi dan aku juga tidak bermain air ataupun mengganggu ikan di kolam rumah sakit lagi. Tuhan, sebagai imbalan akan kebaikanku, bolehkah aku tidak meminum obat lagi? Obat itu sangat pahit. Kalo Tuhan tidak percaya, Tuhan boleh mencobanya sendiri.
Senin, 17 September 2012
Tuhan, ini masih Rita. Aku tau, Tuhan ingin bertemu denganku secepatnya. Akupun juga begitu Tuhan. Tapi Rita belum bisa, Ibu, Suster Yohana, Dokter Juan pasti akan kecewa jika ku tinggalkan. Seperti kemarin, Suster Yohana marah kepadaku karena ku tinggalkan selama 2 jam. Begitupula ibu, aku takut tidak ada yang bisa menjaga ibu sepertiku jika ibu diomeli orang-orang yang tak ku kenal. Baru saja Tuhan, tadi pagi seorang tante-tante berambut aneh memarahi ibuku. Ibuku menangis dan terlihat takut tapi karena aku anak yang berani, ku lemparkan saja katak dari kolam rumah sakit ke arahnya. Oh ya Tuhan, sebenarnya apa itu pelacur? Tante-tante itu marah-marah kepada ibuku sambil mengatakan bahwa ibuku pelacur. Jika Tuhan ingin menjawabnya, Tuhan bisa mengirim surat kepadaku. Tapi Tuhan, jangan terlalu panjang menjawabnya, aku belum bisa membaca semahir Dokter Juan. Dan juga Tuhan, mengapa badanku lemas rasanya? Jawablah juga di surat itu. Aku yakin Tuhan lebih pintar daripada Dokter Juan. Aku bena kan Tuhan?
Rabu, 3 Oktober 2012
Tuhan, dimana suratmu? Haruskah aku datang ke rumahmu untuk memenuhi undanganmu untuk mengetahui jawabannya? Tuhan pelit, tidak taukah Tuhan aku sudah menunggu jawaban Tuhan selama satu, dua, tiga,...empat belas hari, eh lima belas hari Tuhan.Oh ya Tuhan, dua hari yang lalu seorang ibu berteriak-teriak di hadapanku lalu ku lihat orang-orang melihatku seperti setan-setan di film horor yang mengintai korbannya. Tuhan, mengapa orang-orang melihatku dan ibuku dengan wajah begitu? Lebih-lebih nenek, dia begitu membenciku. Apa salahku Tuhan? Tetapi Tuhan, aku senang aku memiliki Suster Yohana dan Dokter Juan juga ibu yang selalu menyayangiku, dan juga diri-Mu Tuhan.
Kamis, 31 Oktober 2012
Hari ini aku bermain air di bawah hujan Tuhan. Aku beruntung, Suster Yohana sedang sibuk hari ini. Tuhan, tetapi mengapa badanku rasanya lemas? Apakah karena aku lupa meminum obatku tadi siang?Dan juga Tuhan, apakah Tuhan tau dimana ibuku? Dimana dia menjalani terapi? Tuhan, sesungguhnya jika aku bisa menggantikan ibuku, aku ingin menggantikan ibu menjalani terapi yang menyakitkan itu. Tapi jika Tuhan bisa menyembuhkan kami berdua tanpa terapi, aku akan mengajak ibu ke tempat Tuhan secepatnya. Terapi dari Dokter Juan kurang ampuh, buktinya sudah sejak dulu sekali aku menjalani terapi dan tetap tidak sembuh. Tuhan, aku akan mendatangi Tuhan dua minggu lagi, aku akan meminta ijin Suster Yohana dan Dokter Juan. Aku juga akan mengajak ibu jika ibu mau. Tunggu aku ya Tuhan.
Kamis , 8 November 2012
Aku ingin bermain air saat hujan. Aku ingin berlarian di luar.Aku ingin berjalan-jalan berkeliling bangsal-bangsal rumah sakit dan menemui orang-orang yang biasa ku temui. Aku ingin melihat adik-adik kecil yang tertidur di kamar bayi. Aku ingin melepas selang-selang dan tabung-tabung ini. Aku ingin tidak meminum obat-obatan yang besar-besar itu. Aku ingin bermain dengan Ibu, Suster Yohana, Dokter Juan dan Tuhan. Aku ingin nenek tidak marah lagi dengan ibu. Aku ingin bertemu ayah. Mengapa hanya aku yang tidak mempunyai ayah? Aku ingin melihat orang-orang menyayangi ibuku. Aku ingin bermain mengejar ikan-ikan di kolam rumah sakit. Aku ingin mengganggu burung-burung yang hinggap di pohon rumah sakit. Tuhan aku ingin tas dan payung merah agar setiap orang tau dimana aku berada.
Jumat, 16 November 2012
Tuhan, aku belum jadi mengunjungimu karena hari ini hari Jumat dan kemarin aku masih menggunakan tabung-tabung besar dan selang-selang itu. Hari ini mereka dilepaskan dari tubuhku, Tuhan. Aku akan mengunjungimu pada hari minggu. Suster Yohana dan Dokter Juan pasti bisa mengantarku ke rumahmu karena mereka libur pada hari minggu. Aku bisa mengajak semua orang yang ku sayangi dan mengenalkan mereka kepadamu Tuhan.
Tuhan, kemarin lusa aku mengirimkan lukisan tanganku kepada nenek. Aku menitipkannya kepada paman yang sering memperhatikan ibu dan aku dari jauh. Paman itu teman nenekku, aku pernah melihatnya berbincang di rumah sakit. Semoga saja nenek menyukainya.
Selasa, 20 November 2012
Tuhan, perkenalkan saya Yohana, suster penjaga Rita. Saya tau sejak Rita bisa menulis, ia menuliskan banyak hal kepada-Mu. Sayapun yakin, saat ini Rita sudah berada di kerajaanmu. Saya yakin, tidak ada lagi rasa sakit akibat virus ganas itu. Tuhan, ijinkanlah saya merawat dan memberi semangat Rita-Rita lain. Terimakasih Tuhan, karena Engkau telah mengirimkan Rita kepada saya. Rita, buku ini akan Suster berikan kepada nenek Rita. Semoga buku ini bisa membuka hati nenekmu. Jangan nakal-nakal ya nak di rumah Tuhan.
(Untuk pita merah yang selalu mendukung mereka untuk tetap bertahan dan mereka yang lahir tanpa dosa namun dicela karena dosa yang tidak mereka perbuat)
Tuhan, ini aku, Rita. Umurku 7 tahun. Kata Ibu, Tuhan serba tau dan Tuhan sudah mengenalku bahkan sebelum Ibu mengenalku. Maka dari itu aku ingin bercerita kepada Tuhan. Boleh kan Tuhan?
Tuhan, hari Rabu yang lalu aku kembali dimarahi ibu-ibu gendut, Dokter Juan dan Suster Yohana padahal aku tidak berbuat salah sedikitpun. Aku hanya bermain dengan seorang anak kecil yang duduk sendirian di taman rumah sakit. Mengapa ibu-ibu gendut yang jelek itu, Suster Yohana dan Dokter Juan harus memarahiku? Mengapa ibuku harus menangis? Oh, aku tau Tuhan, ibu sedih melihat Dokter Juan dan Suster Yohana selalu memarahiku.
Tuhan, kata Ibu, kita bisa meminta apapun kepadamu. Tuhan, jika aku boleh meminta sesuatu kepadamu, bolehkah aku mendapatkan boneka? Kata Ibu, aku bisa meminta kepada Tuhan apa saja jika aku berbuat baik, aku akan berbuat baik selama satu minggu ini Tuhan. Aku Berjanji. Boleh ya Tuhan?<p>
Minggu, 2 September 2012
Tuhan, ini Rita. Aku tidak jadi meminta boneka. Dokter Juan sudah membelikan aku boneka kemarin karena aku rajin meminum obat yang dia berikan dan tidak nakal lagi. Aku tidak berlarian di taman ataupun lorong rumah sakit lagi dan aku juga tidak bermain air ataupun mengganggu ikan di kolam rumah sakit lagi. Tuhan, sebagai imbalan akan kebaikanku, bolehkah aku tidak meminum obat lagi? Obat itu sangat pahit. Kalo Tuhan tidak percaya, Tuhan boleh mencobanya sendiri.
Senin, 17 September 2012
Tuhan, ini masih Rita. Aku tau, Tuhan ingin bertemu denganku secepatnya. Akupun juga begitu Tuhan. Tapi Rita belum bisa, Ibu, Suster Yohana, Dokter Juan pasti akan kecewa jika ku tinggalkan. Seperti kemarin, Suster Yohana marah kepadaku karena ku tinggalkan selama 2 jam. Begitupula ibu, aku takut tidak ada yang bisa menjaga ibu sepertiku jika ibu diomeli orang-orang yang tak ku kenal. Baru saja Tuhan, tadi pagi seorang tante-tante berambut aneh memarahi ibuku. Ibuku menangis dan terlihat takut tapi karena aku anak yang berani, ku lemparkan saja katak dari kolam rumah sakit ke arahnya. Oh ya Tuhan, sebenarnya apa itu pelacur? Tante-tante itu marah-marah kepada ibuku sambil mengatakan bahwa ibuku pelacur. Jika Tuhan ingin menjawabnya, Tuhan bisa mengirim surat kepadaku. Tapi Tuhan, jangan terlalu panjang menjawabnya, aku belum bisa membaca semahir Dokter Juan. Dan juga Tuhan, mengapa badanku lemas rasanya? Jawablah juga di surat itu. Aku yakin Tuhan lebih pintar daripada Dokter Juan. Aku bena kan Tuhan?
Rabu, 3 Oktober 2012
Tuhan, dimana suratmu? Haruskah aku datang ke rumahmu untuk memenuhi undanganmu untuk mengetahui jawabannya? Tuhan pelit, tidak taukah Tuhan aku sudah menunggu jawaban Tuhan selama satu, dua, tiga,...empat belas hari, eh lima belas hari Tuhan.Oh ya Tuhan, dua hari yang lalu seorang ibu berteriak-teriak di hadapanku lalu ku lihat orang-orang melihatku seperti setan-setan di film horor yang mengintai korbannya. Tuhan, mengapa orang-orang melihatku dan ibuku dengan wajah begitu? Lebih-lebih nenek, dia begitu membenciku. Apa salahku Tuhan? Tetapi Tuhan, aku senang aku memiliki Suster Yohana dan Dokter Juan juga ibu yang selalu menyayangiku, dan juga diri-Mu Tuhan.
Kamis, 31 Oktober 2012
Hari ini aku bermain air di bawah hujan Tuhan. Aku beruntung, Suster Yohana sedang sibuk hari ini. Tuhan, tetapi mengapa badanku rasanya lemas? Apakah karena aku lupa meminum obatku tadi siang?Dan juga Tuhan, apakah Tuhan tau dimana ibuku? Dimana dia menjalani terapi? Tuhan, sesungguhnya jika aku bisa menggantikan ibuku, aku ingin menggantikan ibu menjalani terapi yang menyakitkan itu. Tapi jika Tuhan bisa menyembuhkan kami berdua tanpa terapi, aku akan mengajak ibu ke tempat Tuhan secepatnya. Terapi dari Dokter Juan kurang ampuh, buktinya sudah sejak dulu sekali aku menjalani terapi dan tetap tidak sembuh. Tuhan, aku akan mendatangi Tuhan dua minggu lagi, aku akan meminta ijin Suster Yohana dan Dokter Juan. Aku juga akan mengajak ibu jika ibu mau. Tunggu aku ya Tuhan.
Kamis , 8 November 2012
Aku ingin bermain air saat hujan. Aku ingin berlarian di luar.Aku ingin berjalan-jalan berkeliling bangsal-bangsal rumah sakit dan menemui orang-orang yang biasa ku temui. Aku ingin melihat adik-adik kecil yang tertidur di kamar bayi. Aku ingin melepas selang-selang dan tabung-tabung ini. Aku ingin tidak meminum obat-obatan yang besar-besar itu. Aku ingin bermain dengan Ibu, Suster Yohana, Dokter Juan dan Tuhan. Aku ingin nenek tidak marah lagi dengan ibu. Aku ingin bertemu ayah. Mengapa hanya aku yang tidak mempunyai ayah? Aku ingin melihat orang-orang menyayangi ibuku. Aku ingin bermain mengejar ikan-ikan di kolam rumah sakit. Aku ingin mengganggu burung-burung yang hinggap di pohon rumah sakit. Tuhan aku ingin tas dan payung merah agar setiap orang tau dimana aku berada.
Jumat, 16 November 2012
Tuhan, aku belum jadi mengunjungimu karena hari ini hari Jumat dan kemarin aku masih menggunakan tabung-tabung besar dan selang-selang itu. Hari ini mereka dilepaskan dari tubuhku, Tuhan. Aku akan mengunjungimu pada hari minggu. Suster Yohana dan Dokter Juan pasti bisa mengantarku ke rumahmu karena mereka libur pada hari minggu. Aku bisa mengajak semua orang yang ku sayangi dan mengenalkan mereka kepadamu Tuhan.
Tuhan, kemarin lusa aku mengirimkan lukisan tanganku kepada nenek. Aku menitipkannya kepada paman yang sering memperhatikan ibu dan aku dari jauh. Paman itu teman nenekku, aku pernah melihatnya berbincang di rumah sakit. Semoga saja nenek menyukainya.
Selasa, 20 November 2012
Tuhan, perkenalkan saya Yohana, suster penjaga Rita. Saya tau sejak Rita bisa menulis, ia menuliskan banyak hal kepada-Mu. Sayapun yakin, saat ini Rita sudah berada di kerajaanmu. Saya yakin, tidak ada lagi rasa sakit akibat virus ganas itu. Tuhan, ijinkanlah saya merawat dan memberi semangat Rita-Rita lain. Terimakasih Tuhan, karena Engkau telah mengirimkan Rita kepada saya. Rita, buku ini akan Suster berikan kepada nenek Rita. Semoga buku ini bisa membuka hati nenekmu. Jangan nakal-nakal ya nak di rumah Tuhan.
(Untuk pita merah yang selalu mendukung mereka untuk tetap bertahan dan mereka yang lahir tanpa dosa namun dicela karena dosa yang tidak mereka perbuat)
Friday, September 7, 2012
Kancil yang Tak Lagi Mencuri Timun
Aku kancil, teman masa kecil banyak anak di negeri ini. Kau ingat, apa yang mereka katakan tentangku? Tentang aku yang mencuri timun, menipu singa, mengelabuhi buaya, di tangkap petani, atau apa lah itu akupun lupa.
Sebodoh itukah aku? Timun yang harganya hanya seribu rupiah perbiji harus ku curi? Lebih baik aku mencuri iPhone, iPad, emas, berlian, atau uang seperti si tuyul daripada timun.
Kau tau betapa malunya aku, selalu di salahkan sebagai pencuri sejak jaman Belanda sampai sekarang? Dan parahnya lagi status pencuriku kelas bawah, bukan kelas atas seperti pencuri uang rakyat atau pencuri hati. Aku malu, aku bosan, aku lelah. Tak bisakah kalian melihatku sebagai mahluk yang cerdas bukan cerdik? Cerdik terkesan buruk menurutku. Tak bisakah kalian memandangku yang pintar ini? Setidaknya aku berhasil mengelabuhi raja dengan kekuasaan yang cukup besar, raja hutan.
Mungkin aku tak setenar dulu, tapi tetap saja aku tak mau di katakan pencuri timun. Hanya sekali mencuri saja diceritakan kepada anak cucunya. Selalu aku yang disalahkan disaat ada anak yang mencuri. Tak bisakah kalian memandang nilai positifku? Aku sudah tidak mencuri timun lagi.
Sebodoh itukah aku? Timun yang harganya hanya seribu rupiah perbiji harus ku curi? Lebih baik aku mencuri iPhone, iPad, emas, berlian, atau uang seperti si tuyul daripada timun.
Kau tau betapa malunya aku, selalu di salahkan sebagai pencuri sejak jaman Belanda sampai sekarang? Dan parahnya lagi status pencuriku kelas bawah, bukan kelas atas seperti pencuri uang rakyat atau pencuri hati. Aku malu, aku bosan, aku lelah. Tak bisakah kalian melihatku sebagai mahluk yang cerdas bukan cerdik? Cerdik terkesan buruk menurutku. Tak bisakah kalian memandangku yang pintar ini? Setidaknya aku berhasil mengelabuhi raja dengan kekuasaan yang cukup besar, raja hutan.
Mungkin aku tak setenar dulu, tapi tetap saja aku tak mau di katakan pencuri timun. Hanya sekali mencuri saja diceritakan kepada anak cucunya. Selalu aku yang disalahkan disaat ada anak yang mencuri. Tak bisakah kalian memandang nilai positifku? Aku sudah tidak mencuri timun lagi.
Saturday, August 18, 2012
Kau yang Tak Perlu Ada Nama
Kau adalah Pulau Irian, sedangkan aku adalah Pulau Biak. Kita berdua dekat, namun tak menyatu. Ada lautan yang memisahkan dan Pulau Yapen yang lebih dekat denganmu.
Kita berdua kaya, hanya saja kau jauh lebih kaya dibandingkan denganku. Tak perlu ungkapan langit dan bumi untuk kita, cukup Biak dan Papua.
Kau tau, kita tak pernah berkata lebih dari teman, tapi kau lebih. Sahabat? Mungkin karena kita saling mengerti, berbagi dan bercerita. Kakak? Mungkin karena kau selalu mengajakku mengenal Tuhan, memarahiku disaat aku salah dan memberiku saran untuk hidupku. Adik? Mungkin karena usiamu yang lebih muda dariku dan sikap cari perhatianmu. Musuh? Mungkin karena kau tak pernah bosan membuatku kesal denganmu. Partner? Mungkin karena kita selalu punya cara untuk membuat orang lain celaka dan kita punya rencana untuk sebuah kerjasama di masa depan. Kita punya program kerja yang hanya kita berdua yang tau. Kekasih? Untukku tidak walaupun kau cukup utama bagiku dan sebaliknya denganmu.
Apa kau tau seperti apa dirimu? Aku akan tersenyum jika ada di dekatmu walau terkadang benci karenamu. Kau adalah sumber ilmu, hanya ipa dengan segala teori dan alibi dari katamu. Kau bukan kata, sulit untuk mereka memahami katamu yang kaku. Tanganmu juga bukan tangan pelukis, kau bisa merusak semuanya hanya dengan satu goresan kuas. Kau pemimpin yang tegas, walaupun terkadang terlampau tegas kepadaku (mungkin karena kekhawatiranmu). Kau pria yang bertakwa kepada-Nya. Kau anak kecil yang mencari perhatian saat kesepian. Kau pria dewasa yang terlampau serius untuk problematikamu. Kau suka memendam masalahmu walaupun itu tetap tergali olehku. Kau selalu mendengarku walau kataku tak perlu. Kau membantuku saat aku kelu. Kau tetap percaya walaupun aku mengada-ada. Kau tetap ada walaupun ku buat kau kecewa. Kau tau walau hanya dalam hatimu. Kau satu dan teristimewa.Kau terlalu tinggi, tapi beruntung masih bisa kumengerti. Kau...kau...dan kau... Maafkan aku, sahabat yang mencintaimu.
Kita berdua kaya, hanya saja kau jauh lebih kaya dibandingkan denganku. Tak perlu ungkapan langit dan bumi untuk kita, cukup Biak dan Papua.
Kau tau, kita tak pernah berkata lebih dari teman, tapi kau lebih. Sahabat? Mungkin karena kita saling mengerti, berbagi dan bercerita. Kakak? Mungkin karena kau selalu mengajakku mengenal Tuhan, memarahiku disaat aku salah dan memberiku saran untuk hidupku. Adik? Mungkin karena usiamu yang lebih muda dariku dan sikap cari perhatianmu. Musuh? Mungkin karena kau tak pernah bosan membuatku kesal denganmu. Partner? Mungkin karena kita selalu punya cara untuk membuat orang lain celaka dan kita punya rencana untuk sebuah kerjasama di masa depan. Kita punya program kerja yang hanya kita berdua yang tau. Kekasih? Untukku tidak walaupun kau cukup utama bagiku dan sebaliknya denganmu.
Apa kau tau seperti apa dirimu? Aku akan tersenyum jika ada di dekatmu walau terkadang benci karenamu. Kau adalah sumber ilmu, hanya ipa dengan segala teori dan alibi dari katamu. Kau bukan kata, sulit untuk mereka memahami katamu yang kaku. Tanganmu juga bukan tangan pelukis, kau bisa merusak semuanya hanya dengan satu goresan kuas. Kau pemimpin yang tegas, walaupun terkadang terlampau tegas kepadaku (mungkin karena kekhawatiranmu). Kau pria yang bertakwa kepada-Nya. Kau anak kecil yang mencari perhatian saat kesepian. Kau pria dewasa yang terlampau serius untuk problematikamu. Kau suka memendam masalahmu walaupun itu tetap tergali olehku. Kau selalu mendengarku walau kataku tak perlu. Kau membantuku saat aku kelu. Kau tetap percaya walaupun aku mengada-ada. Kau tetap ada walaupun ku buat kau kecewa. Kau tau walau hanya dalam hatimu. Kau satu dan teristimewa.Kau terlalu tinggi, tapi beruntung masih bisa kumengerti. Kau...kau...dan kau... Maafkan aku, sahabat yang mencintaimu.
Thursday, August 9, 2012
Balada pelajar masa kini
Jujur aja, sebagai seorang pelajar gw merasa seperti kerbau. Kenapa kerbau? Ya, karena kerbau itu begitu berharga *kibas rambut*. Kerbau dulu dipake buat penggerak alat penggiles. Dia di iket di sebuah batu dan di perintah jalan muter2 untuk ngegiles apa yang di minta majikan.
Ya, pelajar jaman sekarang harus bekerja keras layaknya si kebo itu dengan beban yang dia seret. Bedanya adalah kita nggak ngegiles padi kayak kebo. Kita diminta belajar dengan keras. Seolah hidup 24 jam itu nggak cukup.
Misalnya aja hidup gw dan temen2 sekelas gw. Kita sekolah jam 6 pagi ampe 3 sore. Lanjut les macem2 + organisasi yang wajib ada di rapor. Itung aja pulang jam 6-7an. Kita belum bikin tugas2 dan perintah guru (kerjakan lks lebih dari yang guru perintahkan). Itung aja belajar di rumah dari jam 8-10. Itu aja kalo tugas nggak seabrek. Kalo PR kerjain di sekolah juga bisa. Palingan jam 12an baru tidur dan jam 4 pagi baru bangun. Kalo minggu masih aja ada acara organisasi. Belum lagi mata pelajaran yang seabrek dan di wajibkan bisa (seenggaknya) semuanya *seenggaknya bisa ngerjain waktu ulangan semester*. Kalo di itung jaman sma kelas 1 ada +- 14 mapel.
Jujur aja gw ngerasa seolah pelajar jaman sekarang yang gaul ya gaul maksimal *kegaulan hingga akirnya digauli* dan yang cupu ya cubis alias cupu abis . Itu sih yang gw alami dari sekolah gw yang berada di kota kecil ini entahlah gimana kabar sekolah-sekolah di negri antah berantah. Ya, tapi paling nggak yang gw denger jadi mahasiswa nggak se-menderita itu tapi lebih menderita lagi.
Ya, pelajar jaman sekarang harus bekerja keras layaknya si kebo itu dengan beban yang dia seret. Bedanya adalah kita nggak ngegiles padi kayak kebo. Kita diminta belajar dengan keras. Seolah hidup 24 jam itu nggak cukup.
Misalnya aja hidup gw dan temen2 sekelas gw. Kita sekolah jam 6 pagi ampe 3 sore. Lanjut les macem2 + organisasi yang wajib ada di rapor. Itung aja pulang jam 6-7an. Kita belum bikin tugas2 dan perintah guru (kerjakan lks lebih dari yang guru perintahkan). Itung aja belajar di rumah dari jam 8-10. Itu aja kalo tugas nggak seabrek. Kalo PR kerjain di sekolah juga bisa. Palingan jam 12an baru tidur dan jam 4 pagi baru bangun. Kalo minggu masih aja ada acara organisasi. Belum lagi mata pelajaran yang seabrek dan di wajibkan bisa (seenggaknya) semuanya *seenggaknya bisa ngerjain waktu ulangan semester*. Kalo di itung jaman sma kelas 1 ada +- 14 mapel.
Jujur aja gw ngerasa seolah pelajar jaman sekarang yang gaul ya gaul maksimal *kegaulan hingga akirnya digauli* dan yang cupu ya cubis alias cupu abis . Itu sih yang gw alami dari sekolah gw yang berada di kota kecil ini entahlah gimana kabar sekolah-sekolah di negri antah berantah. Ya, tapi paling nggak yang gw denger jadi mahasiswa nggak se-menderita itu tapi lebih menderita lagi.
Saturday, August 4, 2012
The Obat Nyamuk's Comeback
Beberapa waktu yang lalu, gw terpaksa(ampe sekarang gw belum ikhlas) ngebantuin adek2 kelas gw untuk hidup mandiri berdampingan ama rumahnya tarzan. Gw dengan tidak suka dan tidak rela kudu wajib dan harus ngejagain adek2(dari kakak mereka masing2) ini. Dan seperti biasa, si couple ikut juga.
Pemberangkatan sih kayanya masih aman2 aja, semua konsentrasi ala2 romi rapiel ngebantuin anak2 gedhe yang masih manja naikin barang + nata tenda mereka.
gw: bro, bantuin gw bikin tenda. Minimal diriin salah satu tiang(kebetulan kita pake tenda pmi ama tenda kotak)
co: kamu bantuin juga ya, ini kan buat tenda kamu nanti
Semua berjalan sewajarnya selama kurang lebih lima jam (gila, gw udah tepuk tangan, kaki ampe jidat ngeliat mereka tahan diri 5 jam. Walaupun alesan sebenernya adalah tugas yang berlimpah). Dan jam berikutnya adalah jam makan malem. Gw diajak naik ke dapur ama mereka berdua. Dan hasilnya seperti biasa, gw ditinggal turun gitu aje. Untung anak2 yang lain ada buat gw (terharu maksimal).
Malemnya nggak ada acara, gw duduk di batu yang ada di deket pintu masuk tempat kemah menggalau seorang diri ditemani taburan bintang dan dinginnya malam (weitsehh...). Tiba2 aja si cowok dateng ke gw dan ikut ngegalau. Dia bilang kalo ceweknya ngambek tanpa sebab. Dan begitu gw tanya ceweknya, dia ngambek karena: cuma pengen ngambek aja. Buset dah, alesannya cuma itu. Eh besoknya udah mesra2an lagi. Dan parahnya, temen2 segeng gw pacaran semua selama kemah. Yah, balada seekor obat nyamuk mantan player yang sedang terkena kutukan atas masa lalunya -.- *merenung di pojokan*
Pemberangkatan sih kayanya masih aman2 aja, semua konsentrasi ala2 romi rapiel ngebantuin anak2 gedhe yang masih manja naikin barang + nata tenda mereka.
gw: bro, bantuin gw bikin tenda. Minimal diriin salah satu tiang(kebetulan kita pake tenda pmi ama tenda kotak)
co: kamu bantuin juga ya, ini kan buat tenda kamu nanti
Semua berjalan sewajarnya selama kurang lebih lima jam (gila, gw udah tepuk tangan, kaki ampe jidat ngeliat mereka tahan diri 5 jam. Walaupun alesan sebenernya adalah tugas yang berlimpah). Dan jam berikutnya adalah jam makan malem. Gw diajak naik ke dapur ama mereka berdua. Dan hasilnya seperti biasa, gw ditinggal turun gitu aje. Untung anak2 yang lain ada buat gw (terharu maksimal).
Malemnya nggak ada acara, gw duduk di batu yang ada di deket pintu masuk tempat kemah menggalau seorang diri ditemani taburan bintang dan dinginnya malam (weitsehh...). Tiba2 aja si cowok dateng ke gw dan ikut ngegalau. Dia bilang kalo ceweknya ngambek tanpa sebab. Dan begitu gw tanya ceweknya, dia ngambek karena: cuma pengen ngambek aja. Buset dah, alesannya cuma itu. Eh besoknya udah mesra2an lagi. Dan parahnya, temen2 segeng gw pacaran semua selama kemah. Yah, balada seekor obat nyamuk mantan player yang sedang terkena kutukan atas masa lalunya -.- *merenung di pojokan*
Subscribe to:
Posts (Atom)
